AS-China Panas Lagi, Indeks Strait Times Melemah 0,79%

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Strait Times dibuka melemah 0,79% ke level 3.200,37. Dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak 25 mencatatkan penurunan harga, 2 saham ditransaksikan menguat, sementara 3 saham tak mencatatkan perubahan harga. Hubungan dagang antara AS dengan China yang kembali memanas membuat investor cemas dan meninggalkan pasar…

Details

Dolar AS Terkoreksi, Harga Batu Bara Mulai Rebound

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara ICE Newcastle kontrak acuan ditutup menguat tipis 0,13% ke US$117,65/metrik ton (MT), pada perdagangan hari Rabu (29/08/2018). Harga komoditas ini mampu rebound setelah sehari sebelumnya terkoreksi signifikan sebesar 1,18%, yang merupakan kejatuhan terparah sejak 30 Juli 2018. Energi positif bagi penguatan harga batu bara hari ini adalah permintaan yang…

Details

Harga Minyak Rekor Tertinggi Dalam 1,5 Bulan, Ini Alasannya

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman Oktober 2018 naik 0,14% ke level US$77,25/barel, sementara harga minyak light sweet kontrak Oktober 2018 juga menguat sebesar 0,19% ke US$69,64/barel pada perdagangan hari ini Kamis (30/08/2018) hingga pukul 10.00 WIB. Harga minyak masih melanjutkan momentum penguatan signifikan pada perdagangan kemarin.  Pada penutupan perdagangan hari Rabu (29/08/2018), harga…

Details

Ikuti Jejak Wall Street, Indeks Strait Times Dibuka Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Strait Times dibuka menguat 0,1% ke level 3.247,14. Dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak 11 mencatatkan kenaikan harga, 11 saham ditransaksikan melemah, sementara 8 saham tak mencatatkan perubahan harga. Indeks Strait Times berhasil mengekor bursa saham AS yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin (29/8/2018);…

Details

Fintech Bisa Berkontribusi Rp 25,97 T Terhadap PDB

Fintech Bisa Berkontribusi Rp 25,97 T Terhadap PDB

Jakarta, CNBC Indonesia – Hasil analisis kajian bersama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dengan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menyebutkan peminjaman dana melalui platform teknologi finansial (fintech) berpotensi menyumbang hingga Rp 25,97 triliun bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan fintech yang memberikan pinjaman pada sektor produktif perlu lebih didukung, karena akan menambah output tenaga kerja dan akhirnya berdampak pada output perekonomian yang lebih berkelanjutan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, total penyaluran pinjaman hingga kuartal II 2018 telah mencapai Rp 7,64 triliun dengan jumlah peminjam 1,47 juta orang, mayoritas di perdagangan dan pertanian.

“Kita melakukan analisis input output, PDB dibagi 21 sektor, baik yang berhubungan langsung dengan jasa keuanga, perdagangan dan sektor lainnya yang tidak berhubungan dengan fintech […] Hasil penelitian empiris, keberadaan fintech di Indonesia bisa meningkatkan PDB hingga Rp 25,97 triliun,” ujar Bhima di Fintech Space, Menara Satrio, Selasa (28/8/2018).

Dia mengklaim fintech peer to peer (P2P) lending sebagai yang paling berkembang saat ini dibandingkan sektor lainnya. Data INDEF menunjukkan fintech lending mampu berkontribusi pada peningkatan konsumsi rumah tangga hingga Rp 8,94 triliun serta kompensasi tenaga kerja (upah dan gaji) hingga Rp 4,56 triliun.

“Saat ini, baru 66 fintech lending yang terdaftar di OJK dari 200-an lebih fintech yang ada. Dan 66 yang terdaftar ini telah mampu menyumbang penyerapan tenaga kerja ritel hingga 215.000 orang, dengan sektor primer seperti pertanian menyerap hingga 9.000 orang,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Ajisatria Suleiman mendorong adanya kolaborasi antara perusahaan fintech pembiayaan/P2P lending dengan perbankan. Menurutnya, upaya tersebut diperlukan untuk mematahkan mitos bahwa fintech akan mematikan perbankan.

Aji mengungkapkan dua hal yang perlu diperhatikan dari sisi investor (lender) dan peminjam uang (borrower) fintech, yakni perlunya membuka akses kepada lender sehingga bisa menyalurkan uangnya dan kepada borrowers sehingga bisa mengakses pinjaman tersebut.

Dia menambahkan, institutional lender seperti Bank Mandiri sudah bekerja sama dengan fintech P2P lending Amartha sebagai channeling (penyalur dana kredit).

Untuk itu, konsep channeling seperti ini harus ditingkatkan dan diperjelas untuk menggunakan dana lender supaya dapat meningkatkan penyalurannya kepada masyarakat.

Adapun dari sisi peminjam, penting untuk mengkaji bagaimana bisa mendapatkan borrowers yang beritikad baik. Fokusnya adalah mekanisme identifikasi untuk assessment borrowers, misalnya melalui data kependudukan dan catatan sipil (dukcapil) serta credit assessment sehingga bisa memastikan peminjam yang memiliki kemampuan membayar.

Di sisi lain, Vice President Strategy & Partnership Amartha, Aria Widyanto menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan ekosistem fintech saat ini bukanlah kompetisi antar pemain, tapi edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana fintech menerapkan ethical lending dan masyarakat menerapkan responsible lending (kemampuan membayar, cost and benefit, dll).

sumber: CNBC Indonesia

Bertahan Hidup, Bank China Harus Gandeng Alibaba & Tencent

Jakarta, CNBC Indonesia – Kurangnya pilihan investasi, penetrasi smartphone dan internet yang tinggi, dan pertumbuhan pesat kekayaan rumah tangga menciptakan lingkungan unik layanan keuangan di China. Bahkan kondisi ini memberikan tekanan kepada perbankan domestik untuk bekerja sama dengan raksasa teknologi seperti Alibaba Group dan Tencent. Bank perlu menggandeng perusahaan teknologi sebagai salah satu cara bersaing…

Details

Pukul 09:00 WIB: Rupiah Melemah ke Rp 14.645/US$

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Dolar AS kian nyaman di level Rp 14.600. Pada Rabu (29/8/2018) pukul 09:00 WIB, US$ 1 ditransaksikan pada Rp 14.645 di pasar spot. Rupiah melemah 0,19% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Akibat pelemahan tersebut, harga jual dolar AS di sejumlah bank nasional kembali mendekati posisi…

Details

WTI kembali naik dan mulai mendekati level $69, Fokus kini pada data API

WTI (minyak berjangka di NYMEX) menghentikan gerakan korektif lebih rendahnya di dekat 68,65 dolar AS, setelah tren bullish kembali terjadi dan mendongkrak harga minyak yang kini mulai bergerak kembali ke level 69 dolar AS. Pembaruan kenaikan WTI secara langsung terkait dengan serangan aksi jual baru yang terlihat dalam dolar AS vs seluruh pesaing utamanya, dengan…

Details