FIRST NEWS

Dow Jones pun sempat diperdagangkan pada level dibawah 10.000, ini untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir. Lantai bursa dibanjiri sentimen negatif, termasuk meningkat...

CURRENCY NEWS

Yen melemah sewaktu rebound di saham dan prospek bahwa ukuran stimulus perekonomian akan bertahan di tempatnya kembali mengikis permintaan untuk mata uang Jepang sebagai tempat perlindungan.

Apa yang Bisa Anda Sebut Sebagai Uang?
GOLD NEWS - Post 18 Juni 2010
BERITA GOLD TERKAIT
    Minyak Mentah Anjlok Untuk Hari Kedua
Minyak jatuh untuk hari kedua di New York pada spekulasi permintaan bahan bakar akan menurun setelah puncak konsumsi musim panas AS berakhir dan di tengah kekhawatiran ekonomi global akan lambat dalam pemulihan.     posted 6 September 2010
    Emas Besinar; Dolar Lemah
Emas, sedikit berubah di London, mungkin menguat setelah melemahnya dolar dan meningkatnya harga logam meningkatkan permintaan lainnya. Perak diperdagangkan mendekati level tertinggi hampir dalam 2,5 tahun.     posted 6 September 2010
    Emas Besinar; Dolar Lemah
Emas, sedikit berubah di London, mungkin menguat setelah melemahnya dolar dan meningkatnya harga logam meningkatkan permintaan lainnya. Perak diperdagangkan mendekati level tertinggi hampir dalam 2,5 tahun.     posted 6 September 2010
Uang yang anda kenal dan gunakan sehari-hari selama ini berasal dari asal-usul sejarah yang sangat panjang sebagai alat tukar (medium of exchange) dalam aktivitas perdagangan. Pada jaman prasejarah, manusia melakukan perdagangan dengan cara barter, yaitu pertukaran barang antara dua belah pihak. Namun, kesulitan yang paling utama dari barter ini adalah menemukan pihak yang membutuhkan barang yang kita punyai dan di sisi lain pihak tersebut juga mempunyai barang yang kita butuhkan (atau dalam istilah Bahasa Inggrisnya disebut: coincidence of wants).

Selanjutnya manusia selalu berupaya mencari cara untuk melakukan perdagangan yang mudah, cepat, dan efektif, tanpa harus menunggu dan mencari pihak-pihak yang bisa diajak barter. Bermula pada jaman batu (paleotikum), manusia yang masih tergolong purba ini mulai menjadikan batu sebagai alat tukar perdagangan. Batu-batu tersebut diukir dan dibentuk dengan alat yang sangat sederhana sedemikan rupa sehingga memungkinkan untuk dibawa-bawa dan dan dipindahtangankan sebagai alat tukar.

Setelah manusia mengenal logam (memasuki jaman neolitikum), manusia mulai menggunakan perunggu sebagai alat tukar karena sifatnya yang lebih mudah untuk dibentuk dan tahan lama dibanding bebatuan. Selanjutnya manusia mulai menggunakan besi, dan perak dan emas sebagai alat tukar yang terus berlanjut hingga kehidupan manusia modern di awal abad pertengahan (middle ages). Penggunaan emas sebagai medium of exchange ini tidaklah mengejutkan jika kita melihat warna dan kilau emas yang sangat menawan dan sifatnya yang kekal.

Memasuki akhir jaman pertengahan, manusia membuat inovasi baru dengan menciptakan suatu sistem alat tukar yang berupa cek / kartal. Cek ini diterbitkan oleh pemerintah masing-masing masing-masing negara, dengan nilai nominal-nominal tertentu; dimana untuk nilai-nilai nominal yang tertera di cek (kertas) tersebut ditetapkan suatu kandungan unit berat suatu logam, misalnya perak atau emas. Dalam arti lain, jika pemerintah Belanda pada menetapkan bahwa nilai satu gulden berharga sebesar 0.60561 gram emas, maka itu artinya secara teknis jika anda seandainya anda mencairkan cek senilai 1 gulden tersebut ke pemerintah negara itu, maka anda akan menerima 0.60561 gram emas . Dalam praktiknya masyarakat tidak mencairkan cek-cek tersebut ke pemerintah, melainkan menjadi alat tukar perdagangan yang sangat mirip dengan uang yang kita kenal dan gunakan saat ini. Sistem alat tukar perdagangan ini disebut Gold Standard.

Sistem gold standard ini mengalami puncaknya di awal abad 20 dunia, melalui perjanjian Bretton-Woods, menetapkan suatu sistem International Gold Standard, dengan mata uang Dolar Amerika Serikat menjadi pusat mata uang dunia. Nilai Dolar AS ini ditetapkan (pegged) dengan sejumlah tertentu emas, dimana mata uang negara-negara lain mengikuti nilai Dolar AS ini. Dalam arti lain, sistem nilai tukar yang berlaku saat itu adalah nilai tukar tetap (fixed exchange rate). Masalah mulai muncul pada saat Perang Dunia 1 (yang mengakibatkan suatu jaman kelam yang terkenal disebut Great Depression), yang diikuti oleh Perang Dunia 2. Perang yang bertubi-tubi ini tentu membutuhkan sumber dana yang sangat besar yang mau tidak mau memaksa pemerintah Amerika, Inggris, dan negara-negara peserta perang untuk terus mencetak lembar-lembar uang baru. Pencetakan uang kertas ini tidak diikuti dengan meningkatnya jumlah cadangan emas yang dimiliki pemerintah negara tersebut sebagai beking klaim nilai uang kertas nya. Hal ini menyebabkan mata uang kertas membanjiri masyarakat tanpa ada nilai riil (real value) nya. Akibatnya inflasi di negara tersebut membumbung tinggi dan nilai dolar nya menjadi sangat overvalued, lebih tinggi dari nilai yang sebenarnya.

Setelah perang dunia kedua berakhir, banyak pemerintah yang enggan bahkan menolak diberlakukannya kembali sistem Bretton-Woods. Setelah berbagai negosiasi, akhirnya negara-negara besar yang tergabung dalam G10 (Group of Ten) menyepakati sistem nilai tukar mengambang (floating), tidak ditentukan dan dibeking oleh cadangan emas, dimana nilai mata uang negara-negara tersebut murni ditentukan oleh hukum pasar (permintaan dan penawaran) di suatu sistem perdagangan mata uang internasional yang bebas. Sistem ini berlanjut sampai saat ini dimana uang yang kita gunakan ini dikenal juga dengan sebutan Fiat Money. Sistem fiat money ini sepintas terlihat sejalan dengan prinsip kebebasan dan demokrasi, namun bahkan di negara-negara yang menganut paham bebas dan sangat demokratis sekalipun, uang ini mengandung satu kelemahan besar yang sangat mendasar. Uang kertas yang kita pegang saat ini tidak lagi dibekingi oleh suatu komoditas (emas) sebagai jaminan kestabilan nilainya (unit of account). Kita hanya mengandalkan janji dari pemerintah bahwa mereka akan menjaga kestabilan peredaran uang.

Pada kenyataannya, janji tersebut tidak selalu ditepati oleh pemerintah. Di Amerika Serikat, defisit perdagangan yang makin menganga, utang yang semakin membengkak, berbagai skandal laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan besar internasional, lobi-lobi spesial segolongan kelompok orang ke Washington, konflik kepentingan penguasa, tindakan-tindakan spekulatif dari pelaku pasar, investasi berlebihan terutama oleh pemerintah beberapa negara berkembang yang didanai hutang raksasa, yang semuanya bersumber dari kerakusan segelintir orang, telah menyebabkan berbagai macam krisis moneter dan keuangan global yang pada akhirnya merontokkan nilai tukar unit uang. Hal ini menyebabkan runtuhnya kepercayaan (faith) masyarakat terhadap uang.

Jika kita melihat tiga belas tahun terakhir sejak, kita bisa menilik balik (flashback) berbagai peristiwa atau krisis ekonomi apa saja yang telah terjadi. Dimulai dari krisis moneter Asia terjadi pada tahun 1997, disusul dengan tragedi penyerangan WTC 2001, kemudian terjadinya krisis kredit perumahan AS (Subprime Mortgage Crisis) di tahun 2007 yang diyakini merupakan krisis ekonomi global terburuk sejak dan hampir menyamai Great Depresion di era 1930an menimbulkan trauma yang sangat mendalam pada pelaku pasar global dan menjadi cikal bakal krisis-krisis keuangan selanjutnya, seperti kasus gagal bayarnya hutang pemerintah negara bagian Dubai di Arab Emirat. Setiap krisis keuangan yang baru saja saya sebutkan tadi terjadi, nilai tukar uang (terutama dolar dalam hal ini) merosot jatuh, inflasi yang membumbung, dan masyarakat / pelaku pasar semerta-merta mengalihkan investasinya ke emas sebagai safe haven akibat ketidakpercayaan mereka terhadap uang. Hal ini mencapai puncaknya ketika kasus gagal bayarnya hutang pemerintah Yunani dan Portugal di awal tahun ini terjadi dan bertele-telenya penyelesaian dua kasus tersebut mendorong aksi borong emas baik dari sektor investor ritel maupun perusahaan-perusahaan reksadana besar. Harga emas mencapai titik tertingginya sepanjang masa di level 1253 per troy ounce di awal bulan Juni ini, melonjak dari 1083 pada bulan maret, atau naik 15% hanya dalam rentang waktu kurang dari 3 bulan.

Jika sudah begini yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita tetap akan mempertahankan uang (fiat money) sebagai alat tukar, atau mungkinkah kita akan kembali lagi menggunakan emas sebagai uang. Yang jelas, apapun sistem uang yang kita gunakan, emas tetaplah menjadi sumber dan patokan nilainya. Dalam arti lain, emas akan selalu menjadi mata uang dunia.


 

 

Copyright First State Futures 2009